Seks merupakan salah satu tiang utama perkawinan. Dengan seks yang harmonis, kehidupan keluarga menjadi lebih berbunga. Sebaliknya tanpa seks yang sehat, keharmonisan pasangan suami istri bisa terganggu meskipun tak selalu berujung perpecahan. Karena itu dalam hal satu ini, keterbukaan komunikasi akan menjadi kunci terpenting. Dokter bisa membantu hanya bila pasangan tak mampu mengatasinya sendiri.

Seks ibarat lem perekat. Saat baru menjadi pasangan, biaanya hari-hari dilalui bersama dengan kesenangan. Pasangan melihat sesuatu yang selalu indah, istimewa dan bisa dinikmati bersama.

Namun keistimewaan itu secara alamiah sedikit demi sedikit akan luntur kadarnya. Kecuali bila keduanya mampu memelihara keistimewaan tersebut dengan ramuan-ramuan baru. Walaupun sajian sama namun rasanya akan berbeda bila ada suasana dan nuansa baru, sehingga tetap bisa dinikmati seperti saat awal pasangan merajut kasih. Keharmonisan pun diharapkan akan bisa dicapai.

Namun sebaliknya bila sesuatu yang istimewa tersebut tidak dipelihara, dan dibiarkan begitu saja, bukan nggak mungkin justru akan menjadi sesuatu yang biasa, bahkan justru mengundang masalah.

Apa yang lebih celaka adalah kalau hal ini terus berlanjut hingga menjadi sesuatu yang tidak ada apa-apanya. Hal ini di samping akan mengundang masalah, juga merupakan aspek berbahaya dalam sebuah rumah tangga.

Hubungan seksual memang bukan satu-satunya penentu keharmonisan pasangan suami-istri. Seksolog Boyke Dian Nugraha yang juga merupakan dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan mengatakan seks adalah salah satu tiang dari perkawinan. Bila satu pilar ini goyah atau tercerabut, maka rumah tangga itu bisa saja runtuh.

Menurut Boyke, peranannya dalam keharmonisan rumah tangga sekitar 20%. Sedangkan unsur terbesar adalah faktor komunikasi, yakni 55%. Kesenjangan komunikasi akan menyebabkan banyak hal tak tersampaikan. Jika hal ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin rumah tangga akan goyah, sebab hubungan suami istri kurang sehat.