Fantasi seksual untuk menambah perbendaharaan teknik dan variasi pasangan kadang-kadang diperlukan untuk menyegarkan hubungan pasangan yang stagnan. Misalnya pasangan dibolehkan untuk menonton film dewasa sebagai alat bantu.

Menurut Boyke, sepanjang hal tersebut tidak dijadikan sebagai obsesi, hal tersebut masih wajar-wajar saja. Misalnya kalau setiap berhubungan intim harus melihat terlebih dahulu film dewasa, itu sudah menjadi obsesi. Kalau sesekali memerlukan film dewasa sebagai alat bantu, hal tersebut wajar saja.

Boyke juga menyarankan perlunya pasutri untuk mengubah tempat bermesraan. Sesekali di kamar mandi, sesekali menggunakan gel, sesekali menggunakan vibrator, dan berbagai alat lainnya. Yang paling penting dari semua penggunaan alat bantu tersebut adalah tidak menjadikannya sebagai obsesi.

Karena itu berbagai fantasi seksual pun disarankan oleh Boyke. “Tapi Dok, fantasi saya terlalu liar,” sergah seorang nyonya agak tersipu.” Boyke lalu menimpali, “Sama suami sendiri kok malu.”

Memang kadang kala ada suami atau istri terkejut manakala pasangannya ingin melakukan hubungan di atas karpet. Ada juga di antara mereka yang menginginkan hubungan di atas mobil. Akibatnya, ia malah merasa curiga, dapat dari mana dan dari siapa “jurus” seperti itu.

Boyke menegaskan, ingat fantasi seksual boleh saja asal tujuannya adalah untuk memuaskan pasangannya. Fantasi seksual berguna untuk membuka ruang komunikasi yang terhambat. Fantasi seksual juga bermanfaat agar hubungan suami istri tidak menderita penyakit “bosan”.

Perlunya teknik dan variasi baru dapat dipelajari dari berbagai macam bacaan. Apalagi sekarang di internet dapat dengan mudah menemukan artikel-artikel yang berkaitan dengan teknik bercinta yang bisa dipelajari oleh masing-masing pasangan.